Monday, February 18, 2013

Lagi, Pendukung Fanatik Pertamina Tertunduk Lesu

AppId is over the quota
Angger Andreas Putranto Amalia Fajrina Nabila (7) dan Rianita Panirwan (12) dari Tim Voli Putri Popsivo PGN berusaha menutup smash yang dilancarkan para pemain tim Voli Putri Jakarta Pertamina Energi, Sabtu (16/2/2013).

JAKARTA, KOMPAS.com- Pendukung tim voli Jakarta Pertamina bisa dikata sebagai pendukung paling heboh dalam seri pertama Proliga 2013 kali ini. Paling tidak setiap tim Jakarta Pertamina Energi, baik putra maupun putri sedang bertanding, suasana Hall Basket A Senayan selalu ramai oleh sorak sorai para pendukung tim yang bermarkas di GOR Pertamina Simprug, Jakarta Selatan itu.

Sayang, untuk kedua kalinya para pendukung tersebut harus tertunduk lesu karena kekalahan tim voli Putri Jakarta Pertamina Energi, Sabtu (16/2/2013).

Jakarta Pertamina Energi yang diperkuat tiga pemain asing dari Brasil, Tassia Goncalves, Arianne Tolentino, dan Gadelha Wivian itu tak kuasa membendung serangan para pemain Jakarta Popsivo PGN yang dimotori oleh pemain asing asal Thailand Jutaraat.

Sejak awal pertandingan, Jakarta Pertamina Energi tampak kesulitan mengimbangi permainan cepat yang diperagakan Jakarta Popsivo PGN yang tahun lalu meraih tropi juara. Tanpa perlawanan berarti Jakarta Popsivo pun mampu menuntaskan permainan mereka dalam tiga set langsung dengan skor 25-20, 25-21, dan 25-23.

Sebelumnya, para pendukung fanatik Jakarta Pertamina tertunduk lesu akibat kekalahan tim putra dari rival sekota, Jakarta Sananta Indocement, Jumat kemarin. Pada pertandingan tersebut tim Putra Jakarta Pertamina juga kalah telak dalam tiga set langsung dengan skor 25-22, 25-20, 25-19.

Satu hal yang menarik dalam pertandingan ini ialah saat Mc Danny selaku pembawa acara mengajak seluruh penonton yang hadir berdiri saat jeda sebelum set ketiga dimulai. Salah satu comic Indonesia itu memimpin para penonton untuk turut merayakan ulang tahun Direktur Proliga Hanny S Surkatty.

Sunday, February 17, 2013

Atlet Memang Butuh Sponsor Pribadi

AppId is over the quota
PB PBSI Ganda campuran Indonesia, Liliyana Natsir (kiri) dan Tontowi Ahmad, yang dulu terikat kontrak dengan Yonex, kini menjalin kerja sama sponsorship dengan Victor. Kesepakatan ini terjadi setelah pengurus baru PB PBSI mengubah sistem kontrak yang dulu kolektif menjadi individu mulai 2013 ini.

JAKARTA, Kompas.com - Sistem sponsor individu yang mulai diterapkan dalam kepengurusan PB PBSI saat ini, diharapkan bisa membawa angin segar bagi perbulutangkisan nasional. Sistem baru yang mengakhiri kontrak kolektif ini diyakini akan bisa meningkatkan kesejahteraan dan prestasi pemain bulutangkis nasional.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum PB PBSI Gita Wirjawan dalam acara President Club di Senayan Golf, Senayan, Jakarta, Jumat (15/2) siang. Selain Gita, hadir pula Ketua KOI Rita Subowo dan sejumlah pimpinan induk organisasi olahraga nasional seperti Ketua PB PASI Bob Hasan, Ketua PABBSI Adang Darojatun.

Dalam acara tersebut, Gita menyatakan bahwa menyangkut pendanaan bagi berjalannya roda organisasi bulutangkis Indonesia, PBSI tak akan menggunakan dana dari pemerintah, BUMN, maupun BUMD.

Sebagai komparasi, dalam kepengurusan sebelumnya PB PBSI hanya menganggarkan dana sekitar Rp 40 miliar pertahun. Kini, di era kepemimpinan Gita Wirjawan dianggarkan dana pembinaan dua kali lipat, sekitar Rp 90 milar per tahun.

Tahun ini, PB PBSI memasang target besar untuk bisa memetik sukses pada empat gelaran internasional. Target yang menjadi fokus tersebut adalah meraih sukses di turnamen All England di Birmingham, Piala Sudirman di Kuala Lumpur, Kejuaraan Dunia di Guangzhou, dan SEA Games 2013 di Myanmar.

Untuk itu, PBSI akan memaksimalkan kerja sama dengan pihak sponsorship. Salah satunya program yang sudah berjalan adalah selesainya persoalan kontrak sponsorship individu yang mulai diterapkan di organisasi yang dipimpinnya.

Mulai awal tahun ini, PB PBSI telah melakukan bidding sponsorship terhadap para pemain secara individu. Kontrak kolektif dengan sponsor Yonex yang sudah berjalan sejak 40 tahun silam, diakhiri.

"Sistem sponsor individu ini diyakini akan memacu atlet untuk berprestasi agar nilai kontrak sponsor bisa bertambah naik, seiring dengan naiknya prestasi," tutur Gita. "Tuntutan untuk profesioal di dalam dan luar lapangan ini juga akan menjadi ukuran nilai pasar selanjutnya," tambahnya seperti dikutip badmintonindonesia.

Dijelaskan oleh Gita, setelah dilakukan bidding terhadap 80 atlet di Pelatnas Cipayung, akhirnya didapat nilai kontrak total sebesar Rp 33,2 miliar. Nilai kontrak pemain untuk durasi dua tahun itu, terbesar di atas Rp 1 miliar, sementara terkecil Rp 25 juta.

Terdapat tujuh sponsor yang melakukan kontrak individu dengan para pemain Pelatnas Cipayung. Mereka adalah, Victor, Yonex, Flypower, Li-Ning, Astec, Babolat, dan Reinforce Speed. Dari komposisinya, sebanyak 25 pemain disponsori Victor, lalu Yonex 21 pemain, Flypower 19 pemain, Li-Ning 9 pemain, Astec 8 pemain, Babolat dan Reinforce Speed masing-masing empat pemain.

Dijelaskan oleh Menteri Perdagangan ini, semua hasil dari sponsor individu, baik cash money, maupun bonus juara, semuanya diberikan secara penuh kepada pemain dan pelatih.

"Hasil dari sponsor individu, semuanya untuk pemain dan pelatih. Ini untuk memacu semangat dan motivasi pemain untuk berlomba-lomba mengukir prestasi setinggi-tingginya," ujar Gita.

Bahkan untuk lebih meningkatkan kinerja pemain dan pelatih, PBSI setiap tahun akan melilih Most Valuable Player (MVP) dan akan memberikan bonus spesial sebesar Rp 1 miliar. Selain itu, apabila sukses merebut gelar juara All England dan juara Kejuaraan Dunia, pelatih dan asisten pelatih diberi bonus sebesar tiga kali gaji terkini.

Apabila timnas Indonesia sukses merebut Piala Sudirman, lanjut Gita, para pelatih dan asisten pelatih diganjar bonus sebesar lima kali gaji terkini.

Rossi Merasa "Terlahir Kembali"

AppId is over the quota
AFP/SAEED KHAN Pebalap Yamaha, Valentino Rossi, ketika uji coba resmi pra-musim MotoGP 2013 di Sirkuit Sepang, Malaysia, Selasa (5/2/2013).

KOMPAS.com - Valentino Rossi yakin, penampilannya pada uji coba resmi pertama pra-musim MotoGP 2013 di Sepang, Malaysia, membuktikan bahwa dirinya masih merupakan pebalap top. Performa buruk selama dua tahun terakhir tak mengikis kehebatan dan nama besarnya yang telah melegenda.

Memang, sejak bergabung dengan Ducati pada awal 2011 hingga akhir 2012, penampilan Rossi sangat buruk. "The Doctor" hanya mampu naik podium sebanyak tiga kali tanpa pernah meraih kemenangan. Ini menjadi rekor terburuk Rossi selama kariernya di grand prix.

Tak ingin terus terpuruk, Rossi memutuskan untuk kembali bergabung dengan Yamaha pada musim 2013. Hasilnya cukup menggembirakan, karena juara dunia tujuh kali MotoGP ini mampu bersaing di barisan depan saat uji coba resmi di Sepang, 5-7 Februari.

Rossi memang belum mampu mengalahkan dua rivalnya dari Spanyol, Dani Pedrosa (Repsol Honda) serta rekan setimnya di Yamaha, Jorge Lorenzo. Tetapi pebalap Italia ini selalu di posisi empat besar pada dua hari pertama, sebelum menggeser rookie MotoGP 2013, Marc Marquez, dari posisi ketiga pada hari terakhir.

Inilah yang membuat juara dunia sembilan kali grand prix tersebut merasa dia sudah mulai bisa kembali bersaing di barisan depan. "Saya sangat senang dengan hasil uji coba pertama," ujar Rossi kepada Motosprint, Jumat (15/2/2013).

"Saya mengatakan bahwa saya ingin memahami jika diriku masih pebalap top. Saya juga mengalami masalah sendiri. Saya sudah di sana, bersama dengan para pebalap top di dunia, dengan mereka yang sedang dalam penampilan terbaik di kariernya. Saya merasa diriku terlahir kembali. Saya tidak jauh tertinggal," papar Rossi.

Pebalap berusia 33 tahun ini pun mengakui, dia tak perlu waktu yang lama di atas lintasan dalam hal persiapan balapan dan strategi. "Balapan, pertarungan ketat, selalu menjadi salah satu titik kekuatanku. Tetapi sayang, seiring perjalanan MotoGP, hal ini semakin kurang penting dibandingkan dengan dahulu," terang Rossi.

"Di sana juga hampir tidak ada lagi strategi, karena murni kecepatan. (Sebelumnya) anda bisa memenangi balapan meskipun sedikit lebih lambat dari rivalmu: ada banyak ruang untuk melakukan sesuatu. Bisa dikatakan bahwa itulah keuntungan yang saya dapatkan dahulu, yang saat ini sudah kurang penting," kata Rossi.

"Saya juga sudah memikirkan tentang banyak pebalap yang akan datang, yang peduli dengan setiap detail supaya tiba di balapan dalam kondisi terbaik. Jadi, hasil akhirnya adalah bahwa saya tak lagi mendapatkan keuntungan itu."